Toleransi dan Belas Kasihan

Toleransi dan belas kasihan, atau dalam bentuk ekstrimnya yang lebih sering terjadi adalah keadilan versus hubungan pribadi, adalah hal dilematis yang sering dihadapi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, orang sering dihadapkan kepada kerancuan dari kehidupan pribadi dengan kehidupan bernegara. Menarik batas yang jelas antara kehidupan pribadi dan kehidupan bernegara adalah hal wajib dilakukan, terutama oleh orang-orang para pengelola negara. Bahwa fasilitas negara tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi, apapun alasannya, ini adalah hal yang sangat jelas dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khatab r.a. Fasilitas negara yang dimaksud adalah dalam bentuk apapun, baik fisikal (asset negara, dst), maupun non fisikal (pengaruh, akses, informasi, dst).

Dalam pelaksanaannya toleransi tidaklah boleh mengorbankan keadilan, karena keadilan adalah tujuan akhir atau tujuan utama dari sistem Pancasila. Tanpa batas dan ukuran yang jelas, toleransi akan melukai rasa keadilan, dan berpotensi merusak sistem yang ada. Pelonggaran toleransi untuk hal-hal yang tidak perlu, bahkan tidak prinsipil, akan menjadi preseden buruk yang bisa mengarah ke pembelokan dan pelanggaran hukum.

Dalam kehidupan pribadi, norma-norma yang berlaku (agama, adat, dst) mengajarkan untuk mendahulukan orang-orang terdekat dalam melakukan suatu perbuatan baik. Tetapi dalam kehidupan bernegara, mendahulukan orang-orang terdekat adalah sangat dilarang, karena ini adalah tindakan diskriminatif yang bisa merusak sistem kenegaraan, yang merupakan satu kesatuan utuh.

Pancasila sila 2

* 0 komentar:

*
TOLERANSI VS TENGGANG RASA
Toleransi dan tenggang rasa mempunyai arti yang mirip. Akan tetapi dalam penggunaannya timbul pergeseran arti, sehingga kurang lebih menjadi seperti berikut: Toleransi adalah cara kita menjaga perasaan kita terhadap perbuatan orang lain. Tenggang rasa adalah cara kita menjaga perasaan orang lain terhadap perbuatan kita.



MENJAGA TRANSPARANSI DAN KOMUNIKASI
Menjaga transparansi dan komunikasi adalah penting sekali untuk mencegah dan mengantisipasi hal-hal yang bisa merugikan antara dua belah pihak.
Baca selengkapnya >>

Hikmat dan Kebijaksanaan mempunyai arti yang hampir sama, Hikmat lebih ke arah ketinggian level batin, sedangkan Bijaksana lebih ke arah ketinggian level berpikir. Hikmat dapat diartikan sebagai wawasan dan kemampuan untuk menalar jauh ke depan melampaui alam kehidupan di dunia saja. Orang yang berhikmat memandang kehidupan dunia adalah satu kesatuan dengan kehidupan di akhirat kelak. Mereka memahami betul hakekat dari baik dan buruk, sehingga mereka tidak akan mengeksploitasi kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya kelak di akhirat.

Bijaksana adalah wawasan dan kemampuan untuk berpikir jauh ke depan di dunia ini. Orang yang bijaksana mampu menganalisa akibat suatu tindakan, manfaat dan mudharatnya bagi orang lain (bangsa, masyarakat) maupun bagi diri mereka sendiri, tidak hanya jangka pendek, tetapi juga jangka menengah, dan jangka panjang bahkan sesudah mereka tidak hidup di dunia ini lagi.

Dengan kata lain para pemimpin, termasuk didalamnya adalah para wakil rakyat, haruslah orang-orang yang bermoral, berilmu pengetahuan tinggi, dan punya wawasan intelektual yang lengkap. Para pemimpin dan wakil rakyat harus orang-orang pilihan yang terbaik dari yang diwakilinya. Mereka harus memiliki Hikmat Kebijaksanaan yang lebih unggul dari yang diwakili.

Pada dasarnya, seluruh nilai-nilai luhur yang dikandung Pancasila adalah termasuk di dalam Hikmat Kebijaksanaan ini. Nilai-nilai luhur itu adalah: nilai-nilai luhur agama di Sila 1, nilai-nilai luhur kemanusiaan di Sila 2, nilai-nilai pentingnya persatuan di Sila 3, nilai-nilai keutamaan dari demokrasi kerakyatan di Sila 4, dan pemahaman tentang keadilan sosial sebagai tujuan akhir dan pedoman arah bagi sila-sila sebelumnya di Sila 5.