Implementasi Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari

Pancasila adalah satu kesatuan, sila-silanya tidak berdiri sendiri-sendiri:
Sila 1: landasan seluruh sila. Sila 2: landasan berbangsa. Sila 3: landasan bernegara. 
Sila 4: pedoman bernegara. Sila 5: tujuan bernegara.




Pancasila jelas berisikan nilai-nilai luhur bangsa. Tetapi semua tergantung manusianya. Sebaik apapun suatu alat, falsafah, atau ajaran, tidak ada manfaatnya jika manusianya tidak melaksanakannya, atau tidak tahu cara penggunaannya. Pancasila adalah milik seluruh bangsa Indonesia, bukan milik kalangan tertentu, atau komoditi bagi pihak-pihak tertentu. 

Blog ini mencoba mendalami penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan mempunyai keanekaragaman yang luar biasa, maka dibutuhkan suatu pengikat yang benar-benar dapat diterapkan, bukan sekedar jargon. Indonesia sudah memiliki Pancasila, selayaknyalah Pancasila bisa menyatukan bangsa ini, meluruskan segala kesalahpahaman, dan menjadi panduan bangsa untuk menyongsong masa depan bersama. Peran serta seluruh warga negara sangat diperlukan untuk menjadikan itu semua menjadi suatu kenyataan.

Pada artikel Cara Penjabaran Alternatif ditawarkan suatu alternatif baru dalam penjabaran Pancasila. Penjabaran di sini diupayakan sefleksibel mungkin dan disesuaikan dengan pemahaman masing-masing orang. Apa yang ditulis di sini hanya sekedar contoh, setiap orang bisa mengembangkan pemahamannya masing-masing. Dengan demikian diharapkan belajar Pancasila menjadi lebih menyenangkan dan jauh dari membosankan.

Dengan meng-klik di nomor ( 1 s/d 5) akan didapatkan pembahasan singkat mengenai sila terkait dan hubungan dengan sila-sila lainnya. Dan dengan meng-klik di kata per kata maka akan didapatkan pembahasan yang lebih detail dan lengkap. Sebagai pembanding, penjabaran Pancasila versi 45 butir sesuai TAP MPR ditempatkan di sebelah kanan.

Adapun penjabaran Pancasila di sini mengacu kepada cara pandang tertentu yang ditulis di artikel Cara Pandang Lain: Sistem Pancasila.

Demikian sedikit prakata, dengan harapan dapat menjadi pemicu munculnya ide-ide baru yang dapat mendorong bangsa ini untuk selalu bergerak ke arah lebih baik, bukan hanya jalan di tempat, apalagi malah mundur.

* 2 komentar:

poetri raden aziz mengatakan...

menurut pendapat anda, apakah implementasi dari pancasila berdampak bagi kinerja para dewan perwakilan dan pejabat negara lainnya?
apakah pancasila yang sekarang ini kita kenal sudah dapat me minimalisir kesenjangan antara warga indonesia?
dan satu lagi apakah nilai dari sila pertama sudah dapat di jalankan dengan baik dan benar?

Admin mengatakan...

seharusnya begitu, usulan penerapannya saya tulis di:
http://aplikasipancasila.blogspot.com/2011/11/penerapan-sistem-pancasila.html

seperti saya tulis di sekapur sirih, maka Pancasila adalah alat,sebagus apapun alat maka tergantung manusianya, bisa menggunakan alat tersebut dengan baik atau tidak
melihat begitu banyaknya penyimpangan di negeri ini, maka saya rasa nilai dari sila 1 belumlah dilaksanakan dengan baik dan benar.
Trims komennya dan mohon maaf agak lama saya balasnya.
Salam...

*
TOLERANSI VS TENGGANG RASA
Toleransi dan tenggang rasa mempunyai arti yang mirip. Akan tetapi dalam penggunaannya timbul pergeseran arti, sehingga kurang lebih menjadi seperti berikut: Toleransi adalah cara kita menjaga perasaan kita terhadap perbuatan orang lain. Tenggang rasa adalah cara kita menjaga perasaan orang lain terhadap perbuatan kita.



MENJAGA TRANSPARANSI DAN KOMUNIKASI
Menjaga transparansi dan komunikasi adalah penting sekali untuk mencegah dan mengantisipasi hal-hal yang bisa merugikan antara dua belah pihak.
Baca selengkapnya >>

Hikmat dan Kebijaksanaan mempunyai arti yang hampir sama, Hikmat lebih ke arah ketinggian level batin, sedangkan Bijaksana lebih ke arah ketinggian level berpikir. Hikmat dapat diartikan sebagai wawasan dan kemampuan untuk menalar jauh ke depan melampaui alam kehidupan di dunia saja. Orang yang berhikmat memandang kehidupan dunia adalah satu kesatuan dengan kehidupan di akhirat kelak. Mereka memahami betul hakekat dari baik dan buruk, sehingga mereka tidak akan mengeksploitari kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya kelak di akhirat.

Bijaksana adalah wawasan dan kemampuan untuk berpikir jauh ke depan di dunia ini. Orang yang bijaksana mampu menganalisa akibat suatu tindakan, manfaat dan mudharatnya bagi orang lain (bangsa, masyarakat) maupun bagi diri mereka sendiri, tidak hanya jangka pendek, tetapi juga jangka menengah, dan jangka panjang bahkan sesudah mereka tidak hidup di dunia ini lagi.

Dengan kata lain para pemimpin, termasuk didalamnya adalah para wakil rakyat, haruslah orang-orang yang bermoral, berilmu pengetahuan tinggi, dan punya wawasan intelektual yang lengkap. Para pemimpin dan wakil rakyat harus orang-orang pilihan yang terbaik dari yang diwakilinya. Mereka harus memiliki Hikmat Kebijaksanaan yang lebih unggul dari yang diwakili.

Pada dasarnya, seluruh nilai-nilai luhur yang dikandung Pancasila adalah termasuk di dalam Hikmat Kebijaksanaan ini. Nilai-nilai luhur itu adalah: nilai-nilai luhur agama di Sila 1, nilai-nilai luhur kemanusiaan di Sila 2, nilai-nilai pentingnya persatuan di Sila 3, nilai-nilai keutamaan dari demokrasi kerakyatan di Sila 4, dan pemahaman tentang keadilan sosial sebagai tujuan akhir dan pedoman arah bagi sila-sila sebelumnya di Sila 5.